» Home
Minggu, 05 September 2010
PEMKOT Menyelenggarakan Pra Symposium Sang Naturalis Alfred Russel Wallace PDF Print E-mail
Rabu, 03 Desember 2008

wallace.jpg Untuk menghormati seorang naturalis besar seperti Alfred Russel Walllace yang pernah berkarya di Ternate, pemerintah Kota Ternate sejak tahun 1996 telah mencoba menelusuri lokasi rumah yang pernah didiami sang naturalis. Baru pada tahun 2008 inilah lokasi dimana 150 tahun lalu pernah berdiri sebuah rumah yang ditinggali oleh Alfred Russel Wallace dapat ditemukan. Pemerintah Kota Ternate berencana untuk membangun sebuah monumen di lokasi tersebut sebagai penghormatan pada sang naturalis dan mengabadikan namanya pada sebuah ‘jalan’ di kota Ternate.

 

Ternate tidak dikenal semata-mata karena faktor ‘Spice Road’ yang oleh Baron Ferdinand von Richtofen – seorang pakar geografi Jerman – menamakannya ‘seiden strasse’ atau jalur sutra karena jalur ini menghubungkan Eropa dan Asia sejak abad pertama Masehi, tetapi Ternate juga menjadi tempat naturalis terkenal Inggris, Alfred Russel Wallace (1854-1862) melakukan penelitiannya dan menemukan teori ‘survival of the fittest’ yang kemudian dikirimkan melalui sebuah surat kepada ilmuwan pujaannya, Charles Darwin. Penelitian Wallace tertuang dalam adikaryanya ‘The Malay Archipelago’. Pada halaman pertama The Malay Archipelago, Wallace menulis: ‘dedicated to my friend Robert Charles Darwin’. Buku ini dipersembahkan untuk Darwin, bapak teori evolusi yang terkenal tersebut.

Ketika Wallace tiba di Ternate tahun 1858, sang naturalis menyatakan bahwa Ternate adalah tempat yang nyaman. Wallace tinggal di sebuah rumah yang dideskripsikan dalam bukunya sebagai: “place to return to after my voyages to the various islands of the Mollucas and new Guinea, where I could pack my collection, recruit my health, and make preparations for future journeys” Wallace “obtained a house, rather ruinous, but well adapted to my purpose, being close to the town, yet with a free outlet to the country and the mountain.”

In this house I spent many happy days. Returning to it after a three or four months’ absence in some uncivilized region, I enjoyed the unwonted luxuries of milk and fresh bread, and regular supplies of fish and eggs, meat and vegetables, which were often sorely needed to restore my health and energy. I had ample space and convenience for unpacking, sorting and arranging my treasures, and I had delightful walks in the suburbs of the town, or up the lower slopes of the mountain, when I desired a little exercise, or had time for collecting.”

Di rumah inilah Wallace menemukan pemikiran yang membedakan jenis flora dan fauna yang berada di sebelah timur dan barat garis Wallace, tepatnya di antara Pulau Sulawesi dan Kalimantan atau Selat Makassar hingga Selat Lombok. Wallace misalnya menemukan salah satu jenis burung endemik di Pulau Halmahera dan Pulau Bacan, yaitu burung Bidadari yang kemudian dinamai Wallace’s Standard wing (Semioptera wallacei). Burung Bidadari adalah 1 dari 249 jenis burung endemik yang hidup di kawasan Wallacea.

Ternate sebagai ’center of excellence’ di kawasan Indonesia bagian timur
Kekayaan dan keragaman alam serta budaya yang luar biasa telah menjadikan Indonesia sebagai negara ‘mega biodiversity’. Ternate dan wilayah sekitarnya dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi telah memberikan inspirasi bagi munculnya teori evolusi, sebuah teori besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Dari bumi Indonesia - tepatnya Ternate - Wallace selama hampir 4 tahun melakukan riset ilmiahnya yang sangat monumental yang melahirkan teori yang hingga detik ini masih digunakan oleh dunia. Dapat dikatakan bahwa karya Wallace di Ternate ini adalah salah satu dari ‘British Pride’ di mata dunia.

Namun demikian, Indonesia saat ini belum memiliki sebuah pusat penelitian yang secara khusus terkait dengan zona transisi biologis flora-fauna yang dikenal sebagai kawasan Wallacea, tidak juga sebuah museum yang menggambarkan pentingnya perdagangan rempah-rempah dalam sejarah Indonesia dan kejayaan ekonomi pulau-pulau di Maluku Utara.

Ternate sebagai inspirator ilmiah dan posisinya yang strategis dalam konstelasi regional Maluku Utara layak untuk dijadikan ‘center of excellence’ untuk kawasan Indonesia bagian timur. Ternate telah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan alam. Karena itu, pemerintah Kota Ternate berupaya untuk menjadikan Ternate sebagai pusat Observatori Alam Wallacea (Wallace National Observatory) untuk membangkitkan kembali semangat ilmu pengetahuan sehingga Ternate akan tetap menjadi inspirator ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

 
< Sebelum   Berikut >